Pangandaran, FOX Indonesia – Ikan hasil tangkapan nelayan selama ini identik dengan lauk untuk konsumsi sehari-hari. Namun di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Galuh (Unigal), ikan segar di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, disulap menjadi produk olahan yang lebih kekinian, yakni nugget ikan.

 

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan pelatihan pengolahan ikan sekaligus pengenalan strategi pemasaran digital yang digelar di Aula Desa Legokjawa. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN Unigal mendorong masyarakat agar mampu melihat potensi bahan baku lokal sebagai peluang usaha baru.

 

Pelatihan tersebut diikuti perangkat desa, Karang Taruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga para ibu-ibu PKK. Kehadiran berbagai unsur masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan menjadi gerakan bersama untuk mengembangkan produk lokal.

 

Ketua pelaksana kegiatan, Adrian Faridz, mengatakan ide membuat nugget ikan berawal dari ketertarikannya terhadap makanan tersebut. Ketika melihat kondisi Desa Legokjawa yang memiliki potensi perikanan cukup besar, muncul gagasan untuk menggabungkan makanan favoritnya dengan bahan baku yang mudah diperoleh masyarakat setempat.

 

“Awalnya saya memang suka nugget. Kemudian di Legokjawa ini kebetulan banyak bahan baku ikan. Dari situ kami mencoba mengimplementasikan ide ini supaya bisa menjadi tambahan peluang bagi masyarakat lokal,” kata Adrian, Minggu 30 Agustus 2026.

 

Menurutnya, keberadaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Legokjawa menjadi salah satu alasan mengapa usaha pengolahan nugget ikan dinilai memiliki prospek. Ikan hasil tangkapan nelayan tersedia dan relatif mudah diperoleh karena langsung berasal dari aktivitas perikanan masyarakat setempat.

 

“Kebetulan di Desa Legokjawa memiliki tempat pelelangan ikan, di mana ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan berkumpul di satu tempat. Jadi bahan bakunya relatif mudah dicari,” papar Adrian.

 

Potensi tersebut, kata Adrian, seharusnya tidak hanya berhenti pada penjualan ikan dalam bentuk segar. Dengan sentuhan inovasi dan pengolahan, hasil tangkapan nelayan dapat memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

 

“Di situlah muncul ide karena banyak ikan segar yang langsung dari para nelayan. Mudah-mudahan dengan adanya inovasi ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun UMKM di Desa Legokjawa,” tuturnya.

 

Adrian bahkan membayangkan nugget ikan tersebut tidak sekadar menjadi produk rumahan. Jika dikembangkan secara serius, produk itu berpeluang dipasarkan sebagai salah satu makanan khas sekaligus buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah Legokjawa dan Pangandaran.

 

“Bisa juga dijadikan oleh-oleh makanan khas Desa Legokjawa. Itu salah satu inovasi dari pengolahan nugget ini,” katanya.

 

Tak hanya memberikan pelatihan secara praktik, mahasiswa KKN Unigal juga berencana melakukan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh masyarakat tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Salah satunya dengan menyiapkan modul pengolahan nugget ikan yang dapat menjadi panduan bagi masyarakat.

 

“Untuk pengawalan pengolahan nugget ini, kami bersama kelompok sudah berniat membuat modul mengenai pengolahan nugget ikan ini,” jelas Adrian.

 

Dalam praktiknya, jenis ikan yang digunakan tidak harus terpaku pada satu jenis. Untuk pelatihan kali ini, mahasiswa menggunakan ikan bawal sebagai bahan utama. Ke depan, masyarakat dapat menyesuaikan bahan baku dengan jenis ikan yang tersedia dan memiliki nilai ekonomis.

 

“Sebenarnya bahan bakunya ikannya bebas, tetapi sekarang kami menggunakan ikan bawal,” ucap Adrian.

 

Selain menawarkan peluang usaha, pengolahan ikan menjadi nugget juga dinilai memiliki nilai tambah dari sisi konsumsi. Ikan dikenal sebagai sumber protein dan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Ketika diolah menjadi produk yang lebih praktis dan disukai berbagai kalangan, terutama anak-anak, ikan diharapkan semakin mudah diterima sebagai bagian dari menu sehari-hari.

 

Adrian berharap inovasi tersebut bisa menjadi pemantik bagi masyarakat Desa Legokjawa untuk terus mengembangkan produk berbasis potensi lokal. Apalagi, dukungan bahan baku dari sektor perikanan sudah tersedia di lingkungan desa.

 

“Harapannya tentu inovasi ini bisa terus dikembangkan masyarakat. Bukan hanya menjadi kegiatan KKN, tetapi bisa benar-benar menjadi produk yang memiliki nilai jual dan membantu perekonomian masyarakat,” ujarnya. ***