Pangandaran, FOX Indonesia – Hamparan pasir di pesisir Legokjawa, Kabupaten Pangandaran, kini mungkin terlihat biasa. Namun, dua puluh tahun lalu, kawasan tersebut menjadi salah satu titik yang menyimpan duka mendalam akibat tsunami yang menerjang pesisir selatan Pangandaran pada Juni 2006.

Di tempat itu, suara tangisan keluarga korban berpadu dengan langkah para relawan yang berjibaku mencari dan mengevakuasi korban. Di antara mereka terdapat Kiai Asep Abdullah Siradj, Pemimpin atau Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Qira’atussab’ah.

Sehari setelah gelombang tsunami menerjang, Kiai Asep bersama sejumlah relawan dari pesantrennya mendatangi kawasan Pantai Blok Jojongor, Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak.

Kedatangan mereka bukan untuk menyaksikan sisa-sisa bencana, melainkan menjalankan tugas kemanusiaan yang jauh lebih berat: mencari dan mengevakuasi korban yang masih berada di lokasi.

Saat itu, kondisi pesisir Legokjawa masih dipenuhi jejak keganasan gelombang. Pasir, puing-puing, serta berbagai material yang terbawa air berserakan di sepanjang kawasan pantai.

Di tengah kondisi tersebut, para relawan menemukan sejumlah korban yang menjadi bagian dari tragedi besar tersebut. Lebih dari 20 korban dilaporkan berada di wilayah Legokjawa.

Bagi Kiai Asep, setiap proses evakuasi menyisakan kesedihan. Namun, perasaan itu harus ditahan agar tugas yang mereka emban dapat segera diselesaikan.

Salah satu kejadian yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatannya adalah ketika ia menemukan seorang anak yang diperkirakan masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.

Tubuh anak tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dengan bagian tubuhnya terkubur pasir hingga setengah badan.

Pemandangan itu membuat hati Kiai Asep terasa berat. Namun, di tengah suasana duka, tidak ada pilihan selain segera melakukan evakuasi.

“Dalam hati menangis, tapi harus segera dievakuasi. Itu terlihat setelah sehari kejadian. Tidak mungkin saat tsunami kami langsung melihat. Melihat dulu situasi,” kata Kiai Asep saat kembali mengenang peristiwa tersebut, Sabtu (8/8/2026).

Santri Turun ke Garis Depan

Bencana tersebut juga membuat para santri senior Pondok Pesantren Al-Itqon Qira’atussab’ah turun langsung membantu kegiatan kemanusiaan.

Mereka menjadi bagian dari tim relawan yang bergerak ke Legokjawa ketika kondisi memungkinkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

Medan yang mereka hadapi tidak mudah. Selain harus berhadapan dengan kondisi pesisir yang porak-poranda, para relawan juga harus berusaha tetap kuat ketika berhadapan dengan korban yang ditemukan.

Bagi para santri, pengalaman tersebut bukan sekadar kegiatan sosial. Mereka menyaksikan secara langsung sisi paling kelam dari sebuah bencana sekaligus belajar tentang arti kepedulian dan kemanusiaan.

Kiai Asep mengaku, salah satu hal yang paling sulit dilupakan adalah melihat seorang anak yang menjadi korban tsunami.

“Tak tega melihat seorang anak sekitar kelas 5 SD terkubur pasir setengah badan dengan kondisi meninggal,” tuturnya.

Dua Dekade Berlalu, Ingatan Tak Hilang

Kini, dua dekade telah berlalu. Kehidupan di Legokjawa kembali berjalan. Warga beraktivitas, pesisir kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sementara generasi yang lahir setelah tragedi tersebut mungkin hanya mengenal tsunami 2006 dari cerita orang tua dan dokumentasi.

Namun bagi Kiai Asep dan para relawan yang pernah berada di lokasi, ingatan tentang hari-hari tersebut tidak mudah dihapus.

Bencana itu bukan hanya meninggalkan kerusakan dan korban jiwa. Di balik tragedi tersebut terdapat cerita tentang orang-orang yang berani mendekat ketika sebagian lainnya masih diliputi ketakutan.

Ada relawan yang turun mencari korban, ada keluarga yang menunggu dengan penuh harap, dan ada pula mereka yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan orang-orang tercinta.

Bagi Kiai Asep, pengalaman dua puluh tahun lalu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, nilai kemanusiaan justru terlihat paling nyata.

Kenangan tentang pasir, puing-puing, tangisan dan proses evakuasi di Legokjawa mungkin telah menjadi bagian dari masa lalu. Namun, bagi mereka yang pernah menyaksikannya secara langsung, luka dan pelajaran dari tsunami Pangandaran 2006 tetap menjadi bagian dari ingatan.***