Pangandaran, FOX Indonesia – Masjid selama ini dikenal sebagai tempat ibadah dan berkumpulnya masyarakat. Namun di wilayah kerja Puskesmas Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, masjid mulai mengambil peran lebih luas sebagai ruang untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui inovasi MASJID SEHAT (Masyarakat Sadar Jaga Kesehatan melalui Informasi, Dakwah sebagai Harmonisasi Edukasi Aktif dan Terpadu) yang digagas Puskesmas Legokjawa.
Program ini memadukan edukasi kesehatan dengan pendekatan keagamaan. Pesan tentang pola hidup sehat, pencegahan penyakit hingga pentingnya pemeriksaan kesehatan disampaikan di lingkungan masjid dengan melibatkan unsur masyarakat dan tokoh agama.
Petugas Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Legokjawa, Heni Nurhaeni, S.KM, mengatakan MASJID SEHAT dirancang untuk membuat edukasi kesehatan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Tujuannya meningkatkan akses masyarakat terhadap edukasi dan skrining kesehatan, memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis masjid, meningkatkan kesadaran melakukan deteksi dini penyakit, serta memperluas kemitraan lintas sektor,” kata Heni, Jumat (14/8/2026).
Menurut Heni, masjid memiliki potensi besar sebagai media penyampaian informasi karena menjadi salah satu ruang sosial yang dekat dengan masyarakat. Melalui pendekatan dakwah yang komunikatif, informasi kesehatan diharapkan tidak sekadar didengar, tetapi juga mendorong perubahan perilaku.
Dalam program tersebut, masyarakat dapat memperoleh edukasi, konsultasi hingga kegiatan pemberdayaan kesehatan tanpa harus selalu mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Konsep ini sekaligus menjadi jawaban atas masih rendahnya partisipasi sebagian masyarakat dalam upaya promotif dan preventif. Terlebih, penyakit tidak menular terus menjadi salah satu tantangan kesehatan, sementara kesadaran untuk melakukan pemeriksaan secara berkala masih perlu diperkuat.
“Pangandaran memiliki kehidupan sosial dan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Ini menjadi potensi besar untuk mendukung pembangunan kesehatan berbasis masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan MASJID SEHAT dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Muslimat NU, Fatayat NU, Bina Keluarga Remaja (BKR), serta tokoh agama.
Hingga kini, inovasi tersebut telah berkembang di 10 masjid yang berada di wilayah kerja Puskesmas Legokjawa, khususnya Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak.
Kehadiran program tersebut membuat penyampaian informasi kesehatan menjadi lebih mudah dijangkau masyarakat. Edukasi yang dikombinasikan dengan nilai-nilai keagamaan juga diharapkan membuat pesan mengenai kesehatan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sasaran akhirnya bukan hanya meningkatnya pengetahuan. Puskesmas Legokjawa ingin mendorong masyarakat lebih aktif melakukan deteksi dini penyakit, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui komunikasi dan kolaborasi antarpihak. Setiap kegiatan juga didokumentasikan, dimonitor, dan dievaluasi untuk melihat kekurangan sekaligus menentukan langkah perbaikan.
“Kerja sama, membangun komunikasi yang lebih baik, saling mendukung, dan memperkuat rasa memiliki terhadap program kesehatan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya,” tutur Heni.
Lebih dari sekadar inovasi pelayanan, MASJID SEHAT diharapkan dapat menjadi budaya kerja baru yang membuat pelayanan kesehatan semakin dekat dengan masyarakat.
Heni menegaskan bahwa keberadaan masjid memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan dalam membangun kesadaran hidup sehat.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kesehatan,” pesannya.
Ke depan, Puskesmas Legokjawa menargetkan inovasi tersebut terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masjid serta masyarakat. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, tokoh agama, pengurus masjid, organisasi masyarakat dan warga diharapkan mampu memperkuat gerakan kesehatan berbasis masyarakat.
“Dengan demikian, dari lingkungan masjid, kesadaran hidup sehat diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi bagian dari budaya masyarakat Pangandaran,” ujarnya.***





Tinggalkan Balasan