
Pangandaran, FOX Indonesia – Di tengah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, pesantren tetap menjadi benteng utama dalam menjaga tradisi keilmuan, membentuk karakter umat, serta melahirkan ulama yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Di Kabupaten Pangandaran, nama KH. Sahlan Mujahid dikenang sebagai salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an melalui Pondok Pesantren Al-Itqan Qira’at Sab’ah di Babakan Bungur, Kecamatan Cimerak.
Perjalanan hidup beliau merupakan kisah tentang perjuangan, kesederhanaan, dan keteguhan dalam mengabdi. Dari kehidupan yang serba terbatas hingga berhasil mendirikan lembaga pendidikan Islam yang melahirkan banyak santri, KH. Sahlan Mujahid menunjukkan bahwa keikhlasan mampu melahirkan warisan yang melampaui usia.
Tumbuh dari Kehidupan Sederhana

KH. Sahlan Mujahid lahir di Cibeet pada 14 Juli 1954 dari pasangan Safnan dan Boci. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, beliau tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengajarkannya arti kerja keras sejak usia dini.
Saat masih berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun, beliau telah membantu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kebutuhan sehari-harinya lebih banyak dibantu oleh kakak-kakaknya. Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah, tetapi justru membentuk pribadi yang tangguh, mandiri, dan penuh kesabaran.
Di lingkungan masyarakat beliau akrab disapa “Akang”, sementara keluarga memanggilnya “Aa”. Semasa kecil, teman-temannya mengenalnya dengan panggilan “Samsuli”.
Semangat Menuntut Ilmu Tak Pernah Padam
Pendidikan formal ditempuh di Sekolah Rakyat Legok Jawa sebelum melanjutkan ke jenjang SMP hingga SLTA di Banyu Asih, Pangandaran. Di tengah berbagai keterbatasan, semangat belajarnya tidak pernah surut.
Ketertarikan beliau terhadap ilmu agama mulai tumbuh saat belajar kepada Kiai Jamaluddin di Pangandaran. Dari sanalah kecintaannya terhadap Al-Qur’an semakin mendalam.
Perjalanan mencari ilmu kemudian membawanya berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, mulai dari Pesantren Nurul Qur’an Cicapar, Pondok Pesantren Qira’at Sab’ah Limbangan Garut, Pesantren Al-Falah Cicalengka, hingga Pondok Pesantren Riyadhul ‘Ulum Wadda’wah Condong.
Dari sekian banyak guru yang membimbingnya, dua sosok yang paling berpengaruh adalah Mama Kudang atau Kiai Ma’mun Bakri serta Mama Najmuddin dari Condong. Keduanya menjadi tokoh penting yang membentuk arah perjuangan dakwah dan keilmuan beliau, khususnya dalam bidang qira’at Al-Qur’an.
Dakwah Dimulai dengan Berjalan Kaki
Sekitar tahun 1976, ketika masih berada di lingkungan pesantren, KH. Sahlan Mujahid mulai aktif berdakwah ke berbagai daerah. Kemplung dan Selasari menjadi beberapa wilayah yang rutin beliau datangi untuk mengisi pengajian.
Kala itu, keterbatasan sarana transportasi membuatnya harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Meski demikian, semangat berdakwah tidak pernah surut.
Ceramah beliau dikenal sederhana, santun, dan mudah dipahami sehingga diterima dengan baik oleh masyarakat. Perlahan, kehadirannya menjadi sosok yang dipercaya untuk membimbing kehidupan keagamaan warga.
Lahirnya Pondok Pesantren Al-Itqan
Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan agama mendorong berbagai daerah mengusulkan agar beliau mendirikan pesantren. Sejumlah lokasi sempat menjadi pilihan, di antaranya Cibeet, Cipancur, Gadog, Legok Jawa, hingga Babakan Bungur.
Setelah bermusyawarah dengan para guru, diputuskan bahwa pesantren didirikan di Babakan Bungur atas arahan Mama Najmuddin dari Condong.
Sekitar tahun 1978, Pondok Pesantren Al-Itqan Qira’at Sab’ah mulai dibangun dengan fasilitas yang sangat sederhana. Rumah tinggal dan saung kecil menjadi tempat awal berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
Seiring waktu, berkat dukungan masyarakat dan keistiqamahan KH. Sahlan Mujahid dalam membina santri, pesantren berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Al-Qur’an yang dikenal luas di wilayah Pangandaran dan sekitarnya.
Nama Al-Itqan diambil dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an karya Imam As-Suyuthi yang bermakna keteguhan dan kesempurnaan dalam memahami Al-Qur’an. Adapun penyematan Qira’at Sab’ah menjadi penegasan terhadap kesinambungan sanad keilmuan beliau kepada para gurunya, khususnya Kiai Ma’mun Bakri di Limbangan.
Mendidik dengan Keteladanan
Di mata para santri dan masyarakat, KH. Sahlan Mujahid dikenal sebagai sosok yang tegas namun penuh kelembutan. Dalam mendidik, beliau lebih mengedepankan keteladanan, adab, dan kasih sayang daripada hukuman.
Selain mengajarkan ilmu qira’at, beliau juga menanamkan pentingnya akhlakul karimah sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim.
Kontribusinya dalam dunia pendidikan Al-Qur’an juga diwujudkan melalui karya tulis, di antaranya Al-Qaul as-Sadid dan Tashilul Musykilat, yang membahas teknik membaca Al-Qur’an, khususnya dalam riwayat Hafs. Karya tersebut menjadi rujukan bagi santri dan masyarakat dalam mempelajari bacaan Al-Qur’an secara benar.
Warisan yang Terus Hidup
Menjelang akhir hayatnya, KH. Sahlan Mujahid sempat mengalami sakit perut pada Kamis sore bertepatan dengan malam Jumat, 9 Ramadan. Keesokan harinya, beliau wafat dalam perjalanan menuju rumah sakit saat hendak dirujuk dari Parigi ke Banjar.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat. Namun, warisan perjuangannya tetap hidup melalui Pondok Pesantren Al-Itqan Qira’at Sab’ah, karya-karya ilmiah yang ditinggalkan, serta para santri yang terus melanjutkan estafet dakwah.
Lebih dari sekadar mendirikan pesantren, KH. Sahlan Mujahid mewariskan nilai keikhlasan, istiqamah, ukhuwah, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus akan selalu meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga cahaya ilmu dan dakwah di tengah masyarakat.
Sumber : saiidusshiddiqiyah.ac.id







Tinggalkan Balasan