Pangandaran, FOX Indonesia – Malam takbiran menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Salah satu tradisi yang paling dinanti warga adalah ngabedug, yakni kegiatan menabuh bedug secara bersama-sama sambil berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya.

Sejak selepas Magrib, gema takbir mulai bersahut-sahutan di sepanjang jalan desa hingga pesisir. Namun, suasana semakin semarak ketika kelompok warga mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua mulai mengarak bedug mereka.

Bedug-bedug tersebut dibawa menggunakan gerobak kayu, sepeda motor, hingga mobil bak terbuka, lalu diarak menuju masjid-masjid di wilayah lain sebagai bentuk silaturahmi.

Setibanya di masjid tujuan, rombongan ngabedug disambut hangat oleh warga setempat. Dentuman bedug pun saling bersahutan, menciptakan irama khas yang menggema di malam takbiran. Tidak hanya menjadi hiburan, tradisi ini juga mempererat hubungan antarwarga lintas kampung.

Mengenal Bedug: Instrumen Tradisional Penuh Makna

Bedug merupakan alat musik tradisional berbentuk tabung besar yang biasanya terbuat dari batang kayu yang dilubangi di bagian tengahnya. Kedua ujungnya ditutup menggunakan kulit hewan, umumnya kulit sapi atau kerbau, yang dikencangkan dengan tali atau paku khusus.

Ukuran bedug bervariasi, mulai dari yang kecil hingga berdiameter lebih dari satu meter. Untuk memainkannya, digunakan alat pemukul berbentuk tongkat kayu yang ujungnya dilapisi bahan empuk agar menghasilkan suara yang dalam dan menggema.

Secara historis, bedug telah lama digunakan di masjid-masjid di Indonesia sebagai penanda waktu salat sebelum pengeras suara (speaker) digunakan secara luas. Dentuman bedug dipercaya mampu menjangkau jarak jauh, sehingga efektif untuk memberi tanda kepada masyarakat.

Dalam konteks malam takbiran, bedug tidak hanya berfungsi sebagai alat penanda, tetapi juga menjadi simbol kegembiraan, kebersamaan, dan semangat menyambut hari kemenangan.

Tradisi Ngabedug: Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Tradisi ngabedug di Pangandaran bukan sekadar aktivitas menabuh bedug, melainkan sebuah ritual sosial yang sarat makna. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga desa, sekaligus sarana pelestarian budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Ngabedug juga mencerminkan nilai gotong royong. Proses persiapan hingga pelaksanaan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemuda yang mengatur arak-arakan hingga tokoh masyarakat yang memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman.

Selain itu, tradisi ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan dan budaya, sehingga mereka tetap terhubung dengan akar tradisi di tengah arus modernisasi.

Suara Warga: Tradisi yang Tak Pernah Pudar

Salah seorang warga Desa Legokjawa, Hayat, mengatakan bahwa ngabedug sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di daerahnya.

“Setiap tahun kami selalu menantikan malam takbiran dengan ngabedug. Ini bukan hanya soal menabuh bedug, tapi juga tentang kebersamaan dan silaturahmi antarwarga. Dari dulu sampai sekarang, tradisi ini tetap hidup dan selalu meriah,” kata Hayat, 20/3.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan berbagai kalangan usia menjadi bukti bahwa tradisi ini masih sangat dicintai masyarakat.

“Anak-anak sampai orang tua ikut semua. Bahkan ada yang datang dari kampung lain membawa bedug mereka. Ini yang membuat suasana jadi lebih semarak dan penuh kebahagiaan,” tambahnya.

Harapan ke Depan

Hayat berharap tradisi ngabedug tetap dilestarikan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Selain sebagai warisan budaya, kegiatan ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata religi yang khas di Pangandaran.

Di tengah gemerlap modernisasi perayaan Idulfitri, dentuman bedug dari Desa Legokjawa menjadi pengingat bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Malam takbiran pun bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perayaan budaya yang menyatukan generasi.***