
JAKARTA, FOX Indonesia – Tradisi bersolek saat Lebaran kini tak lagi melulu soal baju baru. Di kalangan profesional ibu kota, menenteng tas mewah merek dunia menjadi pelengkap wajib saat silaturahmi. Menariknya, alih-alih merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk membeli, banyak warga yang kini lebih memilih jalur praktis: menyewa.
Platform penyewaan tas bermerek, Lavergne.id, mencatat lonjakan permintaan yang signifikan mendekati Idul Fitri 1447 H. Dua jenama asal Prancis, Dior dan Chanel, duduk di posisi puncak sebagai produk yang paling banyak diincar.
Target Pasar: Profesional Usia 30-an
Edha Clarissa dari tim Sales dan Marketing Lavergne.id mengungkapkan bahwa mayoritas penyewa berasal dari kalangan pekerja profesional berusia kepala tiga. “Merek yang biasanya disewakan adalah Chanel dan Dior karena keduanya memiliki tipe tas klasik dan banyak peminatnya,” ujar Edha saat dihubungi, Kamis.
Urusan harga, tarif yang dipatok cukup bervariatif namun tetap jauh lebih terjangkau dibanding harga ritel. Konsumen cukup mengeluarkan kocek mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta untuk sekali sewa. Penentuan tarif ini bergantung pada model, popularitas merek, serta kondisi fisik tas tersebut.
Fenomena ini bukan bisnis kacangan. Menjelang Lebaran, omzet dari jasa penyewaan tas mewah ini diprediksi mampu menembus angka Rp100 juta hingga Rp150 juta.

Proteksi di Balik Kemewahan
Tentu, menyewakan aset seharga mobil bukan tanpa risiko. Untuk mengantisipasi aksi bawa kabur atau kerusakan, pihak penyedia jasa memberlakukan protokol ketat.
- Screening Ketat: Pendataan konsumen dilakukan secara mendalam di awal proses.
- Sistem Deposito: Konsumen wajib memberikan uang jaminan sebagai komitmen menjaga barang.
Adaptasi Gaya Hidup Cerdas
Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jakarta, Dana Duriyatna, melihat fenomena ini sebagai bentuk kedewasaan konsumen dalam mengelola anggaran. Menurutnya, masyarakat kini semakin kritis dalam mempertimbangkan nilai guna (value for money).
”Kami melihat ini sebagai bentuk adaptasi gaya hidup yang cerdas. Alih-alih membeli barang mahal yang mungkin hanya dipakai satu-dua kali saat silaturahmi, mereka memilih menyewa agar tetap tampil prima dengan biaya terukur,” kata Dana.
Misi Lingkungan dalam Balutan Mode
Lebih dari sekadar urusan gengsi, tren sewa menyewa ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkular. Dengan sistem pakai bergantian, masa pakai satu produk menjadi lebih panjang.
Langkah ini dinilai efektif untuk:
- Menekan Produksi Berlebih: Mengurangi permintaan produksi massal yang baru.
- Sustainable Fashion: Membantu mengurangi tumpukan limbah pakaian (landfill).
- Reduksi Mikroplastik: Meminimalisir dampak lingkungan dari proses produksi tekstil dan aksesori.
Bagi warga urban, Lebaran 1447 H kali ini bukan lagi soal memiliki, melainkan soal bagaimana merayakan kemenangan dengan penampilan maksimal tanpa harus membebani bumi dan dompet pribadi.






Tinggalkan Balasan