
Pangandaran, FOX Indonesia – Siapa sangka, pria yang kini dikenal sebagai pengusaha properti sukses di Pangandaran ini pernah menghabiskan masa mudanya di jalanan, mengamen di lampu merah, hingga mencari biaya kuliah dari jasa pembuatan tato. Dialah Roni Prans, sosok yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah hasil yang datang dalam semalam. Ada perjalanan panjang penuh perjuangan, air mata, dan kerja keras yang menjadi fondasi berdirinya berbagai usaha yang kini ia kelola.
Roni mengaku kehidupan jalanan telah memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak pernah ia dapatkan di ruang kelas. Bahkan hingga sekarang, ia masih memegang teguh prinsip hidup yang lahir dari pengalaman tersebut.
“Jalanan adalah sekolahku,” kata Roni saat ditemui, Kamis (11/6/2026).
Bagi Roni, jalanan mengajarkannya tentang arti bertahan hidup, keberanian menghadapi tantangan, hingga kemampuan membaca peluang dalam situasi sesulit apa pun.

Pada 2011, ia memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan. Keputusan itu menjadi titik awal perjuangan yang sesungguhnya. Jauh dari keluarga dan dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Roni harus memutar otak agar bisa tetap kuliah tanpa membebani orang tua.
Berbagai pekerjaan dijalaninya. Ia pernah bekerja di kafe, berjualan, hingga mengamen di sejumlah persimpangan jalan sekitar kampus. Bahkan, kerasnya kehidupan jalanan kala itu membuatnya harus bersaing dengan pengamen lain demi mendapatkan lokasi yang dianggap strategis.
Tak jarang konflik terjadi. Perkelahian dan gesekan dengan sesama anak jalanan menjadi bagian dari cerita masa mudanya. Namun kini, semua itu hanya menjadi kenangan yang justru membentuk karakter dan mentalnya menjadi lebih kuat.
Di tengah keterbatasan, Roni menemukan kemampuan yang kemudian menjadi salah satu sumber penghasilannya selama kuliah, yakni seni tato. Di kalangan tertentu di Yogyakarta, namanya cukup dikenal dengan sebutan Boni Tato.
Lewat keterampilan menggambar di atas kulit, ia berhasil membiayai kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus biaya pendidikan. Karya-karyanya tersebar di tubuh banyak pelanggan dari berbagai daerah.
Meski berprofesi sebagai seniman tato, Roni mengaku selalu memberikan edukasi kepada setiap pelanggan sebelum proses pengerjaan dilakukan.
Menurutnya, tato bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah karya seni yang memiliki konsekuensi jangka panjang.
“Saya selalu menjelaskan risiko dan pertimbangannya terlebih dahulu. Karena tato itu keputusan yang harus dipikirkan matang-matang,” ujarnya.
Saat itu, tarif jasa tato yang ia kerjakan berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp3 juta, tergantung tingkat kesulitan desain dan detail gambar yang diinginkan pelanggan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Roni memutuskan kembali ke Pangandaran pada 2015. Namun kepulangannya tidak serta-merta membuat hidupnya menjadi lebih mudah.
Ia kembali memulai semuanya dari bawah. Berbagai pekerjaan dijalani dengan penuh kesungguhan. Mulai dari berjualan kopi, menjual pakaian pantai, hingga menjadi guru honorer di salah satu SMK negeri di Pangandaran.
Meski penghasilan yang diperoleh saat itu masih terbatas, Roni tidak pernah merasa malu menjalani berbagai profesi tersebut.
Baginya, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan jujur adalah jalan menuju pengalaman dan pembelajaran hidup yang berharga.
Semangat berwirausaha yang terus tumbuh kemudian membawanya mencoba berbagai usaha lain, mulai dari budidaya ikan hingga akhirnya fokus mengembangkan bisnis properti.
Perlahan namun pasti, usaha yang dirintisnya mulai menunjukkan hasil. Satu demi satu proyek perumahan berhasil dikembangkan hingga mengantarkan dirinya menjadi salah satu pengusaha muda yang diperhitungkan di Pangandaran.
Namun bagi Roni, kesuksesan bukan semata-mata soal keuntungan bisnis atau pencapaian materi.
Ada kebahagiaan yang jauh lebih besar ketika ia mampu mewujudkan impian yang dulu terasa sangat jauh, yakni memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
“Itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya. Bisa melihat orang tua berangkat haji dari hasil kerja keras sendiri adalah nikmat yang luar biasa,” ungkapnya.
Meski kini telah berada pada titik kehidupan yang lebih mapan, Roni mengaku tidak ingin melupakan nilai-nilai spiritual yang menjadi pegangan hidupnya.
Di lingkungan perusahaan yang ia bangun, ia menerapkan budaya religius sebagai bagian dari keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Karyawan di bawah naungan usahanya dibiasakan untuk melaksanakan salat berjamaah dan mengikuti kegiatan pengajian bersama.
“Tentu bagi kami, latar belakang bukan batas untuk meraih kesuksesan. Tetapi ketika sukses, jangan sampai melupakan kewajiban kepada Allah. Dunia harus dikejar, tetapi bekal akhirat juga harus dipersiapkan,” tuturnya.
Menurutnya, kesibukan bekerja selama enam hari dalam sepekan tidak boleh membuat seseorang melupakan ibadah. Justru di tengah aktivitas yang padat, manusia harus tetap menjaga hubungan dengan Sang Pencipta sebagai bentuk rasa syukur atas setiap rezeki yang diberikan.
Kini, perjalanan hidup Roni Prans menjadi bukti bahwa masa lalu tidak selalu menentukan masa depan. Dari seorang anak jalanan, pengamen, seniman tato, guru honorer, hingga akhirnya menjadi pengusaha properti yang mampu membuka lapangan pekerjaan dan membantu pembangunan desa.
Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, ketekunan, dan keyakinan yang kuat mampu mengubah kehidupan seseorang. Sebab, sejauh apa pun seseorang pernah terjatuh, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan menuliskan cerita suksesnya sendiri.***





Tinggalkan Balasan