
Pangandaran, FOX Indonesia – Kesuksesan tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Dari sebuah desa di pesisir selatan Jawa Barat, seorang pemuda berhasil membuktikan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan dengan kerja keras, kreativitas, dan konsistensi.
Dia adalah Yahya Saepul Uyun, pemuda asal Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Di usianya yang masih muda, Yahya tidak hanya dikenal sebagai pengusaha tanaman hias yang sukses menembus pasar internasional, tetapi juga sebagai dosen di Institut Nasional Nusantara (INN) Al Farabi Pangandaran.
Perjalanan Yahya menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Dari kampung halamannya, ia membangun RI-YA GreenHouse hingga akhirnya dipercaya menjalin kerja sama ekspor dengan perusahaan tanaman hias ternama asal Jepang, Flore 21.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) setelah tim Flore 21 melakukan kunjungan resmi ke Pangandaran pada 16–18 Mei 2026.
Yang menarik, awal mula kolaborasi itu bukan melalui pameran internasional atau perantara bisnis besar. Justru media sosial menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya. Flore 21 mengaku tertarik setelah melihat konsistensi RI-YA GreenHouse membagikan konten edukasi serta koleksi tanaman hias premium melalui Instagram.

Beragam tanaman eksotis seperti Kadaka, Huperzia, hingga koleksi tanaman langka lainnya dinilai memiliki kualitas tinggi dan karakter unik yang sesuai dengan kebutuhan pasar Jepang. Rasa penasaran itu membawa tim Flore 21 datang langsung ke Pangandaran untuk menyaksikan proses budidaya di green house milik Yahya.
“Kami mengajak perwakilan Flore 21 melihat fasilitas green house hingga turun langsung ke kebun mencari varietas tanaman unik lainnya. Alhamdulillah, momentum itu juga kami manfaatkan untuk penandatanganan kerja sama ekspor,” ujar Yahya.
Dalam kerja sama tersebut, Flore 21 secara khusus meminta RI-YA GreenHouse mengembangkan dua komoditas unggulan, yakni Hoya dan Rhipsalis, yang akan menjadi produk ekspor ke Jepang dalam waktu dekat.
Namun, bagi Yahya, keberhasilan itu bukan hanya soal bisnis dan keuntungan. Selama tiga hari kunjungan berlangsung, hubungan yang terjalin justru berkembang menjadi persahabatan yang hangat.
“Mereka merasa sangat senang bisa menemukan RI-YA GreenHouse di Pangandaran. Bahkan saat berpamitan kembali ke Jepang, suasananya cukup haru karena sudah terasa seperti keluarga sendiri,” tuturnya.
Di balik pencapaian menembus pasar global, RI-YA GreenHouse juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Usaha tersebut kini mampu menyerap sekitar lima hingga sepuluh tenaga kerja dari lingkungan sekitar.
“Ini bentuk rasa syukur kami. Semoga usaha ini bisa membantu membuka lapangan pekerjaan dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Sebagai akademisi, Yahya juga terus mendorong generasi muda agar tidak takut berwirausaha. Menurutnya, Pangandaran memiliki potensi alam yang sangat besar dan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi jika digarap dengan kreativitas serta inovasi.
“Pangandaran memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Kalau anak-anak muda kreatif mengolahnya, sektor apa pun bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal tetapi juga internasional. Mari kita ciptakan produk sendiri yang bernilai dan mampu membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Kisah Yahya menjadi bukti bahwa keterbatasan lokasi bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Berbekal ilmu, ketekunan, dan keberanian memanfaatkan teknologi digital, seorang pemuda dari desa pesisir mampu membawa nama Pangandaran dikenal hingga pasar internasional.
Di tengah anggapan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih di kota besar, Yahya justru menunjukkan sebaliknya. Bahwa dari sebuah desa kecil, lahir mimpi besar yang kini tumbuh, menghijau, dan menginspirasi banyak orang.***







Tinggalkan Balasan