
Pangandaran, FOX Indonesia – Di tengah meningkatnya kebutuhan garam di wilayah pesisir selatan Jawa Barat, Kelompok Cipta Rasa Garam Madasari di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, tetap bertahan sebagai satu-satunya kelompok produksi garam lokal yang masih aktif.
Dengan segala keterbatasan, mereka mampu menghasilkan sekitar dua ton garam setiap bulan. Namun, angka produksi tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi tingginya permintaan pasar.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kabupaten Pangandaran, H. Usep Ependi, mengungkapkan bahwa kebutuhan garam di Pangandaran saja bisa mencapai lima ton per bulan, belum termasuk permintaan dari luar daerah.
“Produksi saat ini baru sekitar dua ton per bulan. Padahal permintaan terus meningkat. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi kelompok ini,” kata Usep, Jumat 24 April 2026.
Ia menambahkan, salah satu kendala utama yang dihadapi kelompok adalah keterbatasan alat produksi, seperti tanel, yang berperan penting dalam proses pembuatan garam. Tanpa dukungan peralatan yang memadai, kapasitas produksi sulit untuk ditingkatkan.

Melihat potensi tersebut, pemerintah daerah hingga provinsi terus mendorong penguatan sektor produksi garam, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Garam yang dihasilkan dari wilayah selatan Pangandaran dinilai memiliki kualitas yang baik dan telah diminati oleh pelanggan.
“Potensi garam Pangandaran ini sangat bagus. Tinggal bagaimana kita memperkuat produksinya agar bisa memenuhi kebutuhan pasar yang terus bertambah,” jelasnya.
Selain itu, kelompok Cipta Rasa Garam Madasari juga mulai menjalin kolaborasi dengan pelaku usaha lokal, salah satunya pabrik tahu. Garam yang diproduksi merupakan jenis garam korosok, yang cocok digunakan dalam berbagai industri pangan tradisional.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas kerja sama dengan pelaku usaha lainnya, termasuk produsen ikan asin jambal, guna menciptakan rantai ekonomi yang lebih kuat di tingkat lokal.
“Kami ingin mendorong kolaborasi lebih luas, sehingga perputaran ekonomi di masyarakat bisa semakin meningkat,” tambah Usep.
Tak hanya itu, program pengembangan juga diarahkan melalui pembentukan koperasi desa merah putih yang memiliki fokus pada produksi garam. Kehadiran dinas di lokasi produksi menjadi bagian dari upaya nyata dalam memberikan pendampingan sekaligus dorongan agar kelompok ini terus berkembang.
“Dengan dukungan yang tepat, kelompok Cipta Rasa Garam Madasari diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi pesisir di Pangandaran,” ujarnya. ***





Tinggalkan Balasan