
Pangandaran, FOX Indonesia – Peringatan Hari Jadi ke-42 Desa Batumalang, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, berlangsung penuh semangat dan sarat nilai budaya, Kamis (7/5/2026).
Perayaan Milangkala tahun ini tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga momentum memperkuat kecintaan generasi muda terhadap sejarah desa.
Suasana meriah terlihat sejak pagi saat berbagai pertunjukan seni tradisional tampil di hadapan warga. Atraksi pencak silat, tari jaipong, hingga penampilan seni dari pelajar sekolah dasar sukses menyedot perhatian masyarakat yang memadati lokasi acara.

Keterlibatan anak-anak dan kalangan muda dalam perayaan tersebut menjadi bukti bahwa warisan budaya Batumalang masih terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Tokoh pemuda Batumalang, Nurman Arifin, menilai antusiasme masyarakat dalam merawat tradisi menjadi kekuatan penting bagi keberlangsungan nilai sejarah desa. Ia menyebut keberadaan sesepuh dan padepokan di Batumalang turut berperan menjaga identitas budaya masyarakat.
“Generasi muda sekarang masih memiliki kepedulian terhadap sejarah dan budaya daerahnya. Itu yang harus terus dipertahankan,” ungkapnya.
Dalam rangkaian Milangkala, masyarakat juga memberikan penghormatan kepada para kepala desa yang pernah memimpin Batumalang. Sejumlah keluarga turut hadir mewakili tokoh-tokoh yang telah wafat sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka dalam membangun desa.
Acara semakin khidmat saat Tim Penyusun Sejarah Desa memaparkan perjalanan lahirnya Desa Batumalang. Ketua tim, Hendri Oktapriatna, menjelaskan bahwa pembentukan desa berawal dari aspirasi warga empat dusun, yakni Gadog, Lebaksari, Citarik, dan Sodong, yang menginginkan akses pelayanan pemerintahan lebih dekat.
Pada masa itu, wilayah tersebut masih masuk administrasi Desa Legokjawa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Setelah Kecamatan Cimerak dimekarkan pada tahun 1979, keinginan masyarakat untuk membentuk desa sendiri semakin kuat.
Menurut Hendri, faktor jarak dan efektivitas pelayanan menjadi alasan utama munculnya usulan pemekaran wilayah tersebut.
Sebelum memiliki kantor pemerintahan tetap, pelayanan desa sementara dilakukan di rumah warga bernama Yunus di Dusun Gadog. Lokasi itu kemudian dikenang sebagai titik awal berdirinya Pemerintahan Desa Batumalang.
Nama Batumalang dipilih karena dianggap mencerminkan kekuatan serta posisi wilayah yang berada di tengah empat dusun pengusul pemekaran.
Meski proses pembangunan pusat pemerintahan sempat terkendala persoalan lahan, akhirnya kantor desa ditetapkan berada di wilayah Gadog hingga sekarang.
Selama lebih dari empat dekade berdiri, Desa Batumalang telah dipimpin enam kepala desa, mulai dari H. Ahdia, H. Muhidin, H. Danu, H. Suharto, Jaja Jaedi, hingga Yusup Tajiri.
Hendri berharap semangat Milangkala mampu mempererat persatuan warga dan menjadi motivasi untuk terus membangun desa tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
“Milangkala ini bukan sekadar perayaan usia desa, tetapi pengingat agar masyarakat tetap menjaga kebersamaan dan menghargai perjuangan para pendahulu,” tuturnya.***





Tinggalkan Balasan